Translate

Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2012

Kerakusan Umat Nabi Isa

 
Oleh: Nashihuddin Asy'ary


Suatu hari Nabi Isa berjalan dengan seorang sahabatnya yang baru ia kenal. Keduanya menelusuri tepi sungai dan membawa tiga kerat roti. Untuk Nabi Isa sekerat roti, sekerat lagi untuk sahabat barunya sedangkan tersisa sekerat yang lain.

Setelah makan Nabi Isa pergi ke sungai untuk minum. Sekembalinya dari sungai, Nabi Isa mendapati roti yang sekerat lagi sudah tidak ada. Ketika beliau bertanya kepada sahabatnya, sang sahabat mengaku tidak tahu. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan.

Sesampai di sebuah hutan, keduanya duduk untuk beristirahat. Nabi Isa mengambil tanah dan kerikil, kemudian beliau berkata: "Jadilah emas dengan izin Allah." Tiba-tiba kerikil itu pun berubah menjadi emas. Kemudian Nabi Isa membagi emas tersebut menjadi tiga bagian. "Untukku sepertiga, dan kamu sepertiga, sedang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti."

Spontan sahabat itu menjawab, "Akulah yang mengambil roti itu." Nabi Isa kemudian berkata, "Ambillah dua bagian ini untukmu." Dan keduanya pun berpisah.

Dalam perjalanan, sahabat nabi Isa dihadang oleh dua orang perampok yang ingin akan membunuhnya. Sahabat Nabi Isa menawarkan, untuk membagi emas yang dibawanya menjadi tiga asalkan ia tidak dibunuh. Kedua perampok pun setuju.

Salah seorang perampok menyuruh rekannya pergi ke pasar untuk berbelanja makanan. Ketika sampai di pasar, orang yang berbelanja itu berfikir untuk apa membagi emas itu menjadi tiga. Ia pun menaburkan racun ke dalam makanan agar temannya dan nabi Isa mati dan ia pun dapat memiliki seluruh emas tersebut.

Tinggallah sahabat nabi Isa bersama seorang perampok di hutan itu. Namun perampok yang tinggal itu ternyata berpikiran sama seperti yang sedang pergi ke pasar. Ia bersekongkol dengan sahabat Nabi Isa untuk membagi emas itu berdua saja dan membunuh rekannya yang berbelanja makanan jika ia datang.

Ketika orang yang berbelanja itu datang, ia pun dibunuh, hartanya akan dibagi dua. Karena merasa lapar keduanya pun menyantap makanan yang telah diberi racun itu hingga mereka mati.

Ketika Nabi Isa berjalan melewati hutan tersebut, beliau menemukan emas di samping tiga mayat yang terbujur kaku. Beliau kemudian berkata "Inilah contoh dunia, maka berhati-hatilah kamu kepadanya."
Sumber: https://www.facebook.com/groups/channelnahdliyin/doc/469395043111653/

Minggu, 23 September 2012

Mengamen itu sama dengan Berdo'a

Andai lagu dari sang pengamen enak didengar tentulah sang pendengar ingin mendengarkan lagu tersebut sampai akhir, bahkan boleh jadi si pendengar meminta lagu tambahan dengan menunda sementara apa yang akan diberikannya pada si pengamen dan tentunya dengan suka rela pula memberikan bonus uang lebih. Berbeda halnya jika si pengamen menyanyikan lagu yang kurang enak didengar, tidak sesuai dengan situasi dan kondisi si pendengar, maka si pendengar langsung memberikan sepeser uang logam dengan harapan si pengamen cepet berlalu...

Begitupun dengan berdo'a, Allah akan senang melihat hamba_Nya yang selalu berdo'a dengan penuh kekhusyu'an dan keikhlasan. Allah akan selalu rindu dengan hamba_Nya tersebut bersenandung do'a ditiap malamnya, bukan berarti Allah tidak sayang sama hamba_Nya dengan tidak langsung memberi apa yang diminta. Allah juga tahu apa yang terbaik untuk hamba_Nya itu, bisa jadi hamba tersebut akan melalaikan kewajibannya untuk berdo'a andaikan do'anya cepet terkabul.

Wallahu A'lam

Semoga bermanfaat.

Senin, 03 September 2012

Siapakah Mujtahid itu?

Assalamu'alaikum wr wb

والمجتهد المطلق هو من يقدر على استنباط الأحكام من الأدلة، ومجتهد المذهب هو الذي يقدر على الاستنباط من قواعد إمامه: كالمزني والبويطي، ومجتهد الفتوى من يقدر على الترجيح لبعض أقوال إمامه على بعض: كالنووي والرافعي لا كالرملي وابن حجر لأنهما مقلدان فقط، ويجب على من لم يكن فيه أهلية الاجتهاد المطلق أن يقلد في الفروع واحداً من الأئمة الأربعة المشهورين

Mujtahid Mut
lak adalah seseorang yang mampu melakukan istinbath hukum-hukum dari berbagai dalil.

Mujtahid Madzhab adalah seseorang yang mampu beristinbath dengan qoidah-qoidah yang telah digariskan imam madzhabnya.. seperti Imam Mazani dan Imam Al Buthi

Mujtahid Fatwa adalah seseorang yang mampu melakukan tarjih terhadap pendapat2 imamnya seperti Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. Imam Ramli dan Imam Ibnu Hajar bukanlah Mujtahid Fatwa melainkan hanya sebatas pengikut (muqollid).

dan wajib terhadap seseorang yang tidak memiliki kemampuan / keahlian berijtihad untuk bertaqlid dalam hal furu' terhadap salah seorang imam madzhab yang empat yang telah masyhur.

Nihayatuz Zain 1/4

NB :
Istinbath menurut bahasa adalah mengeluarkan atau menetapkan, sedangkan menurut istilah adalah mengeluarkan makna-makna dari nash-nash yang terkandung di dalamnya dengan cara mengerahkan segala kemampuan atau potensi naluriyah.

Tarjih secara bahasa berarti “menguatkan”, sedangkan seacara istilah, ada dua defenisi yang di kemukakan oleh ulama ushul fiqh

1. Menurut ulama Hanafiah memunculkan adanya tambahan bobot pada salah satu dari dua dalil yang sama (sederajat) dengan tambahan yang tidak berdiri sendiri.

2. Menurut jumhur ulama menguatkan salah satu dalil yang zhanni dari yang lainnya untuk di amalkan (diterapkan) berdasarkan dalil tersebut.

Semoga Manfaat

اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه

Kamis, 02 Agustus 2012

Lagu-lagu Maher Zain

Link
http://mp3crop.com/music/mp3/Maher_Zain_Assalamu_alaika_arbic_version-page20.html

Kamis, 19 Juli 2012

Arti Syukur

oleh Nashihuddin Asy'ary pada 25 September 2011 pukul 19:45

Seorang anak di sekolah dasar memanjatkan do’a di sepertiga malam terakhirnya..

“ Tuhan, Engkau kan tahu kalau ujian Bahasa Inggrisku hari ini dapat jelek. Tapi aku bersyukur Tuhan, karena waktu ujian aku tidak sekali pun menyontek, meski pun teman-temanku yang lain melakukannya.”

“Tuhan, tadi pagi waktu berangkat ke sekolah aku diberi bekal ibu sepotong kue dan sebotol air. Kata ibu, sekarang sedang paceklik, jadi hanya itu yang bisa kubawa agar di sekolah tidak perlu jajan di kantin. Terima kasih kuenya, Tuhan. Di jalan aku melihat pengemis yang kelaparan. Lalu aku berikan kue itu kepadanya. Tahu-tahu saja laparku hilang ketika melihat pengemis itu tersenyum”

“ Tuhan, lihatlah, ini sepatu terakhirku. Mungkin aku harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau kan tahu sepatu ini sudah rusak berat. Tapi tidak apa-apa, paling tidak aku masih bisa pergi ke sekolah. Tetanggaku bilang orang-orang sedang gagal panen, sehingga teman-temanku banyak yang terpaksa berhenti sekolah. Tolong bantu mereka Tuhan supaya bisa sekolah lagi “

“ O,,, iya Tuhan, semalam ibu memukulku. Mungkin karena aku nakal. Memang agak sakit. Tapi pasti sakitnya segera hilang, karena kuyakin Engkau akan menyembuhkannya. Yang penting aku masih punya ibu. Jadi ku mohon Tuhan, jangan Engkau marahi ibuku ya…! Mungkin ibu sedang lelah saja dan panic memikirkan kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahku “

“ Terakhir Tuhan, sepertinya aku sedang jatuh cinta. Di kelasku ada seorang pria yang sangat pintar, tampan, dan baik. Menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Tapi apapun yang terjadi, yang aku tahu Engkau tetap menyukaiku. Terima kasih Tuhan “.

Tak usah mempertanyakan apakah kisah ini nyata atau tidak, yang jelas mnurut sumber buku penulisnya mengatakan ada seorang bocah di luar sana yang benar-benar memanjatkan do’a seperti di atas….

Rujukan : Tuhan maaf kami sedang sibuk..

Rabu, 18 Juli 2012

BAHAGIANYA ORANG IKHLAS

Berpikirlah terus, bagaimana caranya agar amal kita diterima Allah. Tidak usah mengharap balas jasa, pujian, atau keuntungan sesaat.
“Ketahuilah, hari ini adalah hari Allah. Tidak boleh ada kesombongan dan sikap melampaui batas. Ikhlaskan niat kalian untuk berjihad dan carilah ridha Allah dengan amal kalian”. Inilah yang disampaikan Khalid bin Walid di hadapan komandan pasukannya menjelang Perang Yarmuk.

Tak lama kemudian, datanglah utusan Khalifah membawa sepucuk surat untuk Khalid bin Walid. “Pedang Allah” ini segera membacanya. Di dalamnya tercantum beberapa hal, termasuk berita wafatnya Khalifah Abu Bakar dan dan beralihnya kendali kekhalifahan ke tangan Umar bin Khathab. Yang terpenting, Khalifah Umar mencopot jabatan panglima perang yang disandang Khalid bin Walid, dan mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.

Bagaimana sikap Khalid? Ia menerima pemberhentian tersebut dengan sikap ksatria. Tidak sedikit pun kekecewaan dan emosi terpancar dari wajahnya. “Aku tidak berperang untuk Umar. Aku berperang untuk Tuhannya Umar,” demikian ungkapnya.

Ia segera mendatangi Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menyerahkan kendali kepemimpinan. Setelah itu ia berperang habis-habisan di bawah komando mantan anak buahnya tersebut. Padahal, masa itu adalah masa keemasan Khalid bin Walid.

Saudaraku, betapa bahagianya Khalid bin Walid. Lihatlah, betapa mudahnya ia menyerahkan jabatan kepada anak buahnya, lalu berperang habis-habisan sebagai seorang prajurit. Orientasi perjuangannya adalah Allah, bukan jabatan, ketenaran dan kepuasan nafsunya.

Kita harus mulai mengevaluasi diri. Boleh jadi kita sibuk beramal, namun tidak sibuk menata niat. Sehingga amal-amal yang kita lakukan tidak ada nilainya di hadapan Allah. Seorang ibu mengandung selama sembilan bulan, ia tidak mendapatkan apa-apa selain rasa sakit, bila kehamilannya itu disikapi dengan keluhan. Demikian pula seorang bapak yang siang malam bekerja, ia tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lelah, bila tidak karena Allah. Karena itu, jangan hanya sibuk beramal, tapi sibukkan pula dengan meluruskan niat.

Bagaimana agar kita bisa ikhlas? Tekniknya sederhana. Pusatkan pikiran dan amal hanya untuk Allah. Berpikirlah, bagaimana agar amal kita diterima Allah. Titik. Tidak usah mengharap balas jasa, pujian, atau keuntungan sesaat. Lakukan yang terbaik, sampaikan dengan cara terbaik, berikan yang terbaik, dan dengan hati terbaik.

Saudaraku, orang ikhlas itu pasti bahagia dalam hidupnya. Sebab, Allah SWT akan menganugerahkan enam ciri (keutamaan) dalam hidupnya.

[1] Jarang kecewa terhadap dunia. Orang ikhlas tidak mengharapkan apapun dan dari siapapun. kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari mempersembahkan. Sebaliknya, orang yang tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup, karena banyak berharap dari makhluk.

[2] Tidak pusing dengan penghargaan. Baginya orang ikhlas dipuji atau dicaci sama saja, asalkan apa yang ia lakukan benar caranya dan lurus niatnya.

[3] Tidak membeda-bedakan amal besar dan amal kecil. Orang ikhlas tidak sibuk melihat besar kecilnya amal. Ia hanya sibuk dengan apa yang disukai Allah. Tidak ada yang kecil di hadapan Allah. Yang kecil hanyalah amal yang tidak ikhlas.

[4] Nikmat berbuat amal. Kebahagiaannya bukan dari mendapatkan pujian, namun dari optimalnya amal. Karena itu, orang ikhlas akan tangguh dan istikamah dalam ibadah.

[5] Tidak menonjolkan “bendera”. Orang ikhlas tidak berjuang untuk satu kelompok tertentu. Ia berjuang hanya untuk Islam. Kelompok/bendera hanyalah sarana/alat untuk mencapai tujuan.

[6] Tidak ditipu setan. Allah SWT mengabadikan ucapan Iblis dalam Alquran. “pasti aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas” (QS Al Hijr [15]: 39-40). Wallaahu a’lam. KH. Abdullah Gymnastiar/Rep. Online

( KH Abdullah Gymnastiar )

Selasa, 17 Juli 2012

Gara-Gara Maulid 2

Al kisah dijaman Khalifah Harun ar Rasyid ada seorang pemuda yang mempunyai kelakuan buruk di kota Bashrah, penduduk kota memandang rendah padanya, karena perilakunya itu. Hanya saja, pemuda ini mempunyai kebiasaan unik; setiap bulan Rabi'ul Awal tiba (bulan Maulid), dia menyambutnya dengan suka cita, membersihkan badan, memakai pakaian yang rapi, mengadakan walimah, dan membaca kisah maulid Nabi ...Saw. dalam acara itu.
 

Kebiasaan itu berlansung dalam waktu yang lama. Pada saat pemuda itu wafat penduduk kota mendengar suara dari angkasa; 'wahai penduduk kota Bashrah datanglah, dan layatlah wali Allah Swt. Sebab dia memiliki kududukan terhormat disisi-Ku. Kemudian penduduk kota melayat, dan menghadiri pemakaman pemuda itu. Pada saat penduduk Bashrah tidur, mereka bermimpi melihat pemuda itu berjalan dengan gagahnya diatas hamparan kain sutra.

Pemuda itu ditanya, dengan apa engkau mendapat keutamaan ini? Dia menjawab dengan mengagungkan dan mengistimewakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw.


آللّهُمَ صَلِِّ وَسَلّمْ وبَارِكْ عَلَے سَيّدنَآ مُحَمَّد وَعَلَے آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ

Menyeimbangkan Hidup

Dikisahkan oleh Ibnu Sa’ad bahwa suatu hari istri Utsman bin Madz’un datang kepada istri Rasulullah dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Istri Rasulullah pun berkata kepadanya, “Kenapa kamu terlihat seperti ini, bukankah tidak ada orang Quraisy yang lebih kaya daripada suamimu?” Istri Utsman bin Madz’un menjawab, “Saat ini keadaan itu sudah tak tersisa lagi! Ketika malam hari dia (Utsman bin Madz’un) menghabiskannya dengan shalat malam, sedangkan siangnya dia selalu berpuasa.”

Tak lama setelah itu, Rasulullah SAW masuk ke rumah. Istri Utsman pun menceritakan keadaan ini kepada beliau. Rasulullah kemudian menemui Utsman bin Madz’un lalu bertanya, “Wahai Ustman bin Madz’un, tidakkah kamu menjadikanku sebagai contoh?”

“Ada apa wahai Rasulullah, sehingga engkau berkata demikian?” ujar Utsman balik bertanya.

“Apakah kamu selalu puasa pada siang hari dan menghabiskan malammu dengan shalat malam?” Rasul kembali bertanya.

“Iya, saya sungguh melakukannya, wahai Rasulullah,” jawab Utsman.

“Jangan kamu lakukan itu,” sabda Nabi kepadanya. “Sesungguhnya matamu memilki hak atasmu, tubuhmu memiliki hak atasmu dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka shalatlah dan tidurlah. Dan puasalah lalu berbukalah.” (HR Bukhari).

Riwayat di atas adalah salah satu keistimewaan ajaran Islam yang menganjurkan kepada Kaum Muslim untuk selalu hidup seimbang. Seimbang antara ibadah dan bekerja, seimbang antara ruh dan raga, seimbang antara akal dan hati, dan lain sebagainya. Islam melarang umatnya untuk berlebihan dalam membatasi gerak hidup (tafrith) sehingga mengharamkan kenikmatan-kenikmtan yang Allah halalkan.

Atau sebaliknya, terlalu longgar (ifrath) seakan-akan semua hukum adalah halal, sehingga berlaku sekehendak hatinya dan membolehkan segala cara.
Islam adalah agama fitrah, dan fitrah manusia selalu menginginkan keseimbangan. Dengan keseimbanganlah alam alam raya ini selalu berjalan teratur. “Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?..” (Al-Mulk [67]: 3). Keseimbangan inilah yang menjadi ruh dan inti ajaran Islam.

Dalam Surah Al-Jumuah ayat 9-10 Allah menggambarkan bagaimana seharusnya seorang Muslim menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Orang-orang Mukmin, dalam ayat tersbut, adalah mereka yang ketika telah tiba saatnya untuk beribadah, akan bergegas mengingat Allah dengan meninggalkan jual beli dan segala rutinitas dunia. Namun setelah usai menjalankan ibadah, mereka kembali menyebar ke penjuru bumi untuk mencari karunia dan rizki-Nya dengan tidak lupa untuk selalu berdzikir kepada-Nya. Mereka bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, namun tidak pernah melupakan kehidupan dunia yang saat ini mereka jalani. Kepala mereka menengadahkan ke langit, namun kaki mereka tetap berpijak di bumi.

Dengan itulah Allah menjamin keberuntungan bagi mereka. Beruntung dalam hidup di dunia dengan mendapatkan karunia dan limpahan rizki-Nya dan kelak di akhirat mendapatkan ganjaran nikmatnya syurga. Wallau a’la wa a’lam.

Oleh: Jauhar Ridloni Marzuq

Puisi untuk Romo Yai Drs. Kamilun Muhtadin, M.Si

Bagaimana berprilaku sopan, kau ajari kami
Bagaimana menata masa depan, kau ajari kami
Bagaimana cara berjuang, kau ajari kami
Bagaimana menyayangi yang muda, kau pun ajari kami
Bagaimana menghormati yang tua, kau pun juga ajari kami

Kau teladan kami dalam berorganisasi
Kau teladan kami dalam berinteraksi
Kau teladan kami dalam mengabdi
Kau terladan kami dalam menata hati

KAULAH GURU SEJATI

Tak ada satu pun makhluk yang kau sakiti
Yang kecil, sebaya dan yang tua semuanya kau hormati
Yang miskin dan yang kaya tiada beda kau sayangi
Yang arogan dan yang sopan tetap kau hargai

KAULAH GURU SEJATI

Tutur lembut katamu sejuk di hati
Kesederhanaanmu membuat kami simpati
Kesahajaanmu memancar di setiap langkah kaki
Kasih sayangmu tiada hancurkan emosi

Keislamanmu...
Keimananmu...
Keihsananmu...
Ketawaddu'amu...
Keikhlasanamu...
Kewira'ianmu...
Kejujuranmu...
Kedermawananmu...
Kesederhanaanmu...
Kesabaranmu...

KAMILAH JADI SAKSI...


SELAMAT JALAN GURU....
TEMUILAH KEKASIH SEJATIMU...
KARENA DIALAH YANG SELAMA INI KAU RINDU..

M. Nashihuddin Asy'ari
Malang, 17 Juli 2012 / 27 Sya'ban 1433 H

Pesan Sahabat Ustman Bin Affan

Sahabat Utsman Bin Affan ra berkata : Rasa takut bagi hamba Allah dalam 6 (enam) perkara, yaitu :
  1. Rasa takut ketika ditimpa musibah, karena kuwatir imannya menjadi luntur
  2. Rasa takut dikala ingin berbuat sesuatu yang dilarang Allah (maksiat) karena ada malaikat yang selalu mencatat perbuatannya
  3. Rasa takut terperdaya dengan perbuatan syaitan karena syaitan itu bisa menjerumuskannya ke jurang neraka
  4. Rasa takut ketika dicabut nyawanya oleh Malaikat Izrail, karena belum sempat bertaubat kepada Allah
  5. Rasa takut akan tertipu oleh kemewahan dan kenikmatan di dunia
  6. Rasa takut terganggu oleh keluarganya karena dia dapat melupakan pengabdiannya kepada Allah

*L_V_U_Bie*

Link diskusi https://www.facebook.com/groups/channelnahdliyin/doc/209329589118201/

Sahabat Umar bin Khaththab

Sahabat Umar bin Khaththab berkata : Allah merahasiakan 6 (enam) perkara kepada hambanya disebabkan 6 (enam) perkara:
1. Allah merahasiakan keridhoan_Nya kepada hambanya yang taat agar manusia tetap terus berbakti/taat
2. Allah merahasiakan turunnya Lailatul Qadar di bulan Ramadhan agar manusia selalu berusaha untuk mencapainya dengan bersungguh-sungguh tanpa mengingat/merasa bosan
3. Allah merahasiakan wali-wali_Nya/hamba-hamba_Nya yang shaleh kepada orang banyak agar mereka tidak dipuja-puja/disembah-sembah disebabkan oleh kemuliannya karena wali-wali Allah itu tergolong orang yang mempunyai kelebihan ilmu
4. Allah merahasiakan umur seseorang agar ia selalu bersiap sedia untuk mati dan rajin beramal shaleh
5. Allah merahasiakan tentang keutamaan shalatul wushtha, shalat yang utama dari pada shalat-shalat yang lain agar hamba_Nya tetap rajin dan berusaha mencapainnya
6. Allah merahasiakan tentang siapa jodoh kita nantinya agar manusia mencari jodoh yang terbaik untuknya.



*L_V_U_Bie*

Link diskusi https://www.facebook.com/groups/channelnahdliyin/doc/209211579130002/

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India