This is featured post 1 title
Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut gunung Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia
This is featured post 2 title
Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu. Salah seorang bertanya kepada Imam, Apakah tanda-tanda tawadhu itu? Beliau menjawab, Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran
This is featured post 3 title
Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan
This is featured post 4 title
Jangan memandang rendah dan remeh orang lain, Hanya karena tak lebih pintar, tak lebih kaya, tak lebih beruntung Dan tak mempunyai pangkat sepertimu. Kadangkala di mata Allah Swt, batubara yang terlihat legam. Terlihat lebih berkilau dibanding dengan permata yang mahal harganya
Selasa, 17 Desember 2013
Edisi Mengenal Tokoh NU: Mbah Subkhi, Kiai Bambu Runcing
♡ Mbah Subkhi, Kiai Bambu Runcing ♡
Edisi Mengenal tokoh NU: KH ABDULLAH SALAM Wali yang Penuh Karamah
KH ABDULLAH SALAM
Wali yang Penuh Karamah
Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, diakui justru karena sepanjang hidupnya, ia berusaha melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW. Terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatannya; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.
Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.
Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semuanya disuguhi makan.
Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari ia menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.
Ketika ia masih menjadi pengurus (Syuriyah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. KH Abdullah Salam tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia memintanya –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan ia jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.
Semasa kondisi tubuh nya masih kuat, ia juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.
Ketika kondisi nya sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumahnya. Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, ia termasuk kiai yang menyukai musyawarah.
Ia bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Ia rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanannya yang sudah diketahui banyak orang.
Tawadu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.
Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?
Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena ia punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).
Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa-- merupakan salah satu pantangan utama.
Ia tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.
Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya.
Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata mbah Dullah kepada tamunya itu.
Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.
Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”
“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”
“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.
“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata.
Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”
Kisah di atas yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.
Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.
32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.
Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah’, “ Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan”. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.
Agaknya mbah Dullah –rahimahullah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana ia sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.
Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.
Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.
Sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!
Dari sentuhan tangan dinginnya di Pesantren yang terletak di pinggiran pantai utara Jawa itu, lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wahid dll.
Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Ia sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya ia, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.
25 Sya’ban 1422 bertepatan 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil kerahmatullah, wasiat pun dilaksanakan. Ia dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”
Minggu, 30 Desember 2012
KH. Hasani Nawawie (Sidogiri)
21 Kali Bermimpi Soekarno Terletak di tepi selatan asrama Pesantren Sidogiri bersebelahan dengan Mesjid, dalem itu tampak sepi. Seperti tak ada kegiatan kerumahtanggaan di situ. Bangunannya tampak tua sekali, dengan jendela dan pintu bercat cokelat. Bagian depan berlantai semen seluas 1×3 meter. Tak ada aksesori apapun, hanya tampak beberapa pohon pisang di depan dalem. Pagar bambu yang menutupinya sudah tampak agak rusak. Di sebelah barat, dalem itu ditutupi beberapa satir dari anyaman bambu. Di sinilah, Kiai Hasani tinggal. Jika anda ke sana, anda tak mengira bahwa itu adalah dalem seorang ulama besar yang amat disegani, terutama di Jawa Timur. Rumah itu memang terlalu sederhana. Tapi, dari sinilah figur panutan itu meniupkan angin sufisme dari pikiran ke pikiran: sufisme yang tidak hanya dalam bentuk konsepsi, tapi sebuah realitas kehidupan. Kiai Hasani memang menyukai hidup sederhana. Apa yang dijalani dalam hidupnya merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai sufistik yang tak mengacuhkan materi. Sufisme memang telah menjadi pandangan hidup beliau sejak muda. Beliau konsisten dengan nilai-nilai itu, qawlan wa fi‘lan. Sehingga ada kesan unik pada pola hidup yang beliau jalani. Memang pola hidup sufistik pada jaman ini, secara realitas tidaklah populer, meski hal itu sering muncul sebagai komoditas wacana. Ia telah menjadi tumpukan cerita di masa lalu. Nilai utama sufisme yang selalu dipegang teguh oleh beliau sampai akhir hayatnya adalah al-bu‘d ‘an al-dun‘ya. Dalam catatan sejarah, nilai ini dipopulerkan oleh Sayyidina Ali yang menyatakan talak tiga untuk dunia. Begitu pula dalam pandangan Kiai Hasani, hubb al-dun‘ya (suka dunia) adalah penyakit yang telah amat kronis menimpa umat ini. Suatu ketika, dalam sebuah manuskripnya, beliau mengungkapkan bahwa akar dari kerusakan umat ini adalah kesenangan ulama-ulamanya kepada dunia. Memang, dari 8 orang putra Kiai Nawawie, semuanya hidup miskin. Tapi, yang membuat Kiai Hasani berbeda dari saudara-saudaranya adalah kesempatan untuk kaya selalu beliau tolak. Beliau tidak pernah menghiraukan urusan uang dan harta. “Jangan sampai engkau tahu, berapa jumlah uang yang ada di sakumu,” dawuh beliau. Begitulah Kiai Hasani dalam memandang dunia. Zuhud (asketisme) menjadi cermin utama dalam pola hidup yang beliau jalani. Seperti tak ada kesukaan sedikit pun terhadap dunia. Kalau pada umumnya, para tokoh (termasuk ulama) menyukai fasilitas-fasilitas mewah, tapi lain halnya dengan Kiai Hasani. Beliau malah hidup sangat sederhana. Tidak suka mobil. Sering tampak berjalan kaki atau naik becak untuk sebuah keperluan. “Keinginan punya mobil saja, aku tidak ingin,” dawuhnya suatu ketika kepada K.H. Nawawi bin Abdul Jalil, keponakannya. Jika anda masuk ke dalem Kiai, maka mesti tersirat sebuah kesimpulan betapa sederhananya beliau. Di dalem, tidak terdapat peralatan apa-apa. Tak ada hiasan dan hanya berlantai semen. Menariknya di dinding sebelah dalam, Kiai menggantungkan celurit, pacul dan tangga. Entah isyarat apa yang beliau maksudkan dengan peralatan tani ini. Yang jelas, barang-barang itu bukan hiasan yang dimaksudkan untuk menambah keindahan pemandangan. Dalam dahar-nya (makan) sehari-hari, K.H. Hasani biasanya hanya cukup dengan nasi putih dengan lauk krupuk dan kecap. Makanan kesukaan beliau adalah kentang rebus diletakkan di piring kecil dan tempe mendol. Pada hari Senin, sehari sebelum wafat, Kondisi beliau semakin melemah. Dokter yang memeriksanya menganjurkan agar makan lebih banyak, tapi beliau beralasan bahwa sejak dulu beliau tidak pernah makan banyak. Akhirnya Dokter hanya menyarankan agar yang penting perut tetap ada isinya. Uniknya, Kiai malah memberi makan kucing piaraannya dengan ikan tongkol dan ikan-ikan yang biasanya menjadi lauk kebanyakan orang. Kiai memang suka memelihara hewan yang konon juga merupakan hewan piaraan kegemaran Abu Hurairah, Sahabat Nabi dan perawi hadits paling masyhur itu. Kucing-kucing yang terlantar dan sakit-sakitan beliau rawat dan dipeliharanya dengan baik sampai sehat dan gemuk. Kalau ada kucing yang mati maka beliau akan menguburkannya layaknya manusia. Suatu saat salah satu kucing piaraan beliau terlindas kendaraan salah satu keluarga. Lalu dikuburkan di suatu tempat. Ketika tahu kejadian tersebut, beliau langsung membongkar lagi kuburan kucing tersebut dan dipindahkan ke tempat penguburan kucing yang terletak di belakang dalem beliau. Dalam dawuhnya, Kiai Hasani menyatakan bahwa kucing merupakan nunutan beliau untuk masuk surga. “Kamu tidak punya dosa, Pus!” dawuh beliau suatu hari seperti berdialog dengan kucing kesayangannya. Memang, beliau sangat akrab dengan kesederhanaan itu. Hidup layaknya orang biasa sudah menjadi manhaj al-hayah bagi beliau. Berpakaian seperti lazimnya orang biasa. Sering terlihat memakai baju takwa hitam. Tidak suka memakai sorban seperti kebiasaan para ulama. Bahkan, beliau juga lebih suka memakai kopyah hitam dibanding kopyah putih. Itu semua merupakan manifestasi dari pandangan kesederhanaan dan kesukaan untuk hidup layaknya orang biasa. Kiai Hasani memang amat tidak suka memakai atribut jasmaniah para ulama. Beliau juga tidak senang diperlakukan istimewa. Pernah suatu ketika, beliau diundang menghadiri walimatul arusy salah seorang tokoh di Pasuruan. Di tempat yang disediakan untuk undangan para kiai, tertulis kalimat “Khusus Masyayikh”. Tahu ada tulisan semacam itu, Kiai Hasani yang kebetulan diundang dan hadir dalam acara tersebut tidak berkenan masuk. Apa kata beliau? “Aku bukan masyayikh”. Akhirnya tuan rumah melepas tulisan itu dan Kiai Hasani pun berkenan masuk. Konon, Kiai juga senang diundang ke Probolinggo karena di tempat itu beliau tidak di’istimewa’kan dari yang lain. Jika Kiai Hasani mau, bukannya beliau tidak bisa untuk hidup seperti lazim tokoh-tokoh lain. Dalam pembagian tirkah warisan setelah beliau wafat, uangnya banyak tercecer di mana-mana. Kadang di bawah kasur, di dalam kitab dan di tempat-tempat lain. . Ini merupakan sebuah cermin bahwa Kiai tidak pernah memasukkan urusan harta ke dalam pikirannya. Beliau tidak pernah menghitung berapa uang yang dimilikinya. “Jangan sampai kau ketahui uang yang masuk ke sakumu, agar kamu tidak bersandar pada uang,” ungkap beliau menyiratkan sebuah pandangan zuhdiyah-nya. Dulu, Kiai Hasani pernah titip modal kepada H. Makki, salah satu jutawan terkenal di Pamekasan Madura. Hal ini dimaksudkan beliau sebagai pemenuhan atas kewajiban berkasab bagi seorang muslim. Tapi, sampai akhir hayatnya Kiai Hasani tidak pernah menghiraukan uang itu lagi. Menjelang pembagian warisan, uang itu diserahkan oleh H. Makki kepada keluarga beliau di Sidogiri. “Al-Dun’ya dawa’,” dawuh Hadratussyekh. “Dunia adalah obat”. Kalimat singkat itu diperoleh beliau melalui mimpi. Syahdan, Kiai Hasani pernah bermimpi bertemu Soekarno (Presiden ke-1 Republik Indonesia). Dalam mimpi itu, Soekarno hanya menyampaikan kalimat “al-dun’ya dawa” kepada Kiai. Konon, mimpi yang sempat beliau tulis dalam manuskripnya itu, terjadi selama 21 kali. Awalnya K.H. Hasani tidak paham apa maksud dari kalimat tersebut. Lalu beliau menceritakan mimpi itu kepada kakak beliau Almaghfurlah K.H. Cholil Nawawie. Setelah berpikir cukup lama, K.H. Cholil bisa menjawab apa maksud dari kalimat “dunia adalah obat”. “Obat itu hanya digunakan jika keadaan sakit (betul-betul membutuhkan, begitu pula dunia,” jelas Kiai Cholil kepada Kiai Hasani. Mengenai hal itu, Kiai Hasani juga berdawuh: “Yang baik, obat itu apa kata dokternya. Tidak boleh overdosis.” Pandangan dan sikap hidup asketis itu memang telah beliau tampakkan semenjak muda. Tak ada tempat di hati untuk kesenangan duniawi. “Saya ingin tahu, seperti apa rasanya senang dunia itu?” dawuh beliau suatu ketika. Begitulah Kiai Hasani, selalu memelihara kelarasan antara dawuh dan perilaku. Kekentalannya dengan sufisme tidak hanya terejawantahkan dalam kata-kata, tapi juga pola hidupnya sehari-hari. Oleh kerena itu, beliau sering mewanti-wanti bahwa sekarang ini yang terpenting bagi kita adalah mengamalkan ilmu. “Kalau dulu memang dibutuhkan orang-orang alim, sekarang sudah tidak perlu lagi. Semuanya sudah alim-alim. Kita hanya perlu menyelamatkan diri,” tegas Hadratussyekh. Ulama memang telah begitu banyak. Lalu, sebanyak itukah orang yang bermoral ulama? Sufisme telah menjadi kajian luas: di majelis ta‘lim, seminar, halaqah, dan mimbar-mimbar kuliah. Buku-buku tentang tasawuf membanjiri toko-toko. Lantas, seluas itukah nilai-nilai sufisme itu telah diterapkan? Kiai Hasani seperti mengkritik itu semua: “al-Ilm al-yawm mazhlum,” dawuh beliau penuh kecewa. Saat ini, ilmu pengetahuan (terutama pengetahuan agama) memang telah menjadi korban. Pandangan kritis itu tidak hanya ditunjukkan Kiai Hasani untuk para ulama dan cendekiawan. Dalam pandangan beliau, orang-orang yang melaksanakan ibadah pun sekarang banyak yang maghrur, terjerumus dalam lembah kedunguan. Setelah naik haji pada tahun 1958, beliau enggan untuk naik haji lagi. Hadratussyekh begitu prihatin melihat Baitullah itu sekarang. Begitu banyak munkarat di situ. Padahal kita mesti ekstra hati-hati di Tanah Suci itu. Tanah Haram tidak bisa dibuat sembarangan. Mengenai ibadah, Kiai Hasani memberi penekanan utama pada sisi makna. Ibadah bukan cuma urusan ritual badaniah belaka, tapi berintisari pada pemaknaan hati. Oleh karena itu, beliau lebih suka melakukan ibadah yang dirasanya sebagai hal berat. Di situ ada upaya menundukkan hati kepada Ilahi. Mengatur gerak hati memang lebih berat dibanding aktivitas jasmaniah. Ini terutama menyangkut keikhlasan dan gerak kalbu yang lain. “Lebih berat maksiatnya hati dari pada maksiatnya badan,” dawuh beliau. Menjadikan gerak kalbu sebagai esensi segala aktivitas merupakan pandangan yang diperkenalkan kalangan sufi. Kendati demikian, Kiai Hasani sangat kukuh dan tegas memegang norma-norma ritual sebuah ibadah. Beliau amat tegas dengan kebenaran tatalaksana shalat menurut aturan fiqh, begitu pula dalam ibadah-ibadah lain. Bahkan, sampai masalah adzan pun beliau mempunyai perhatian amat serius. Sampai sekarang, adzan di Mesjid Sidogiri tidak pernah berlagu. Kiai Hasani marah jika adzan dilakukan berlagu. Memang, pada aspek tatakrama, adzan berlagu hanya mementingkan dominasi seni serta telah kehilangan makna panggilannya menghadap Allah. Persis seperti umumnya para sufi, K.H. Hasani sejak lama merindukan mati, sebuah keinginan yang tidak wajar dalam pikiran orang yang belum merasakan betapa sesak dunia ini dan betapa indah bertemu dengan Sang Rabb. Kerinduan itu sering beliau ungkapkan, terutama menjelang hari wafatnya. Apa yang menguntungkan dari mati? ”Kalau orang baik pendek umur, ia cepat ketemu kebaikannya. Kalau orang yang jelek pendek umur, ia cepat putus dari kejelekannya agar tidak banyak dosanya,” dawuh Hadratussyekh membangun logika dari pandangannya. Jika ada tamu, Kiai Hasani selalu mengantarkan sendiri suguhannya. Beliau juga sangat sedih jika banyak tamu, khawatir tidak bisa menghormati mereka dengan layak. Etiket sufisme lain yang juga sudah begitu melekat pada Kiai Hasani adalah melestarikan ajaran khumul. Dalam kamus sufi, khumul berarti tidak mau dikenal orang (tentang keistimewaan dirinya). Dalam tuntunan tasawuf Ibnu Atha’ al-Sakandari ajaran ‘tidak suka tampil’ itu dimaksudkan sebagai langkah penyelamatan bagi seorang yang menjalani kehidupan sufi agar tidak terjerumus oleh popularitas dan ketenaran. “Sing enak saiki iki mastur,” dawuh Kiai kepada K.H. A. Nawawi bin Abdul DJalil, keponakannya. Memang, khumul seperti telah menjadi filosofi baku, tidak hanya bagi Kiai Hasani tapi juga Sidogiri. Pondok pesantren yang sudah berusia 256 tahun itu seperti besar dalam ketersembunyian: tidak pernah menyebar brosur atau jenis promosi lain, bahkan memasang plakat pun bagi Sidogiri terkesan tabu. Kiai Hasani Nawawi: Perjuangan Mendidik Generasi
Mendidik Masyarakat dengan Uswah Tak ada Kiai Hasani, Sidogiri seperti kehilangan urat nadi. “Kiai Hasani wafat, siapa lagi yang punya perhatian penuh pada shalat,” kalimat itu kerap terdengar dari santri Sidogiri pasca wafatnya Hadratussyekh K.H. Hasani Nawawie. Memang, selama dasawarsa terakhir, Sidogiri memiliki komitmen pendidikan shalat yang luar biasa. Upaya pendidikan shalat bagi santri digalakkan sedemikian rupa. Bahkan, semenjak dua tahun yang terakhir, Sidogiri menetapkan lulus ujian shalat sebagai syarat kenaikan kelas di madrasah. Komitmen yang luar biasa hebat ini merupakan buah perhatian ekstra Kiai Hasani terhadap shalat santri. Dalam dawuhnya, beliau menyatakan bahwa shalat merupakan standar keberhasilan pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri. Shalat santri baik, berarti pendidikan berhasil; shalat santri jelek, berarti pendidikan gagal. K.H. Hasani memang lebih sering memerankan sebagai sosok yang mengerem langkah Pesantren Sidogiri agar tidak bergeser dari visi semula: ingin mencetak ‘ibad Allah al-shalihin. Beliau adalah supervisor, penyelia segenap komponen pesantren yang sedang berproses. Tugas ini beliau akui sebagai beban yang mahaberat, soalnya menyangkut tanggung jawab di hadapan Allah. Tugas mahaberat ini sejalan dengan pandangan beliau bahwa pesantren merupakan lembaga yang ussisa ‘ala al-taqwa, dibangun dan berdiri atas dasar takwa kepada Allah. Jadi, bagaimanapun dan kemanapun pesantren ini melangkah, takwa tetap harus menjadi oreintasi dasar. Hal tersebut betul-betul membuat Kiai Hasani tidak bisa tenang, terutama ketika menyaksikan ibadah santri. Di dalem, Kiai kadang berdiri sampai berjam-jam menghadap ke mesjid. Beliau memperhatikan dengan seksama santri yang sedang melakukan shalat. Kiai memang mempunyai keprihatinan yang mendalam melihat shalat santri belakangan ini. Kiai menjalankan kontrol penuh terhadap mesjid. Sampai sekarang pun, dalemnya yang terletak bersebelahan dengan mesjid itu seperti menjadi pengawas bisu bagi santri yang masuk ke mesjid. Mereka terlihat amat hati-hati berada di mesjid ini, terutama ketika Hadratussyekh masih hidup. Menyaksikan mesjid Sidogiri akan terlihat aktivitas ibadah yang berlangsung tertib. Mesjid selalu ramai dengan lalulalang santri yang hendak, usai, atau sedang melaksanakan ibadah. Bangunan tua itu memang padat dengan aktivitas dalam 24 jam. Tapi, semuanya berjalan tenang dan tertib. Ini semua buah kontrol ketat Kiai Hasani terhadap tempat ibadah itu. Kontrol penuh K.H. Hasani atas mesjid itu memang terbukti efektif bagi pembangunan semangat ibadah bagi santri Sidogiri. Kiai Hasani sangat tidak suka jika tempat ibadah itu dicampuri dengan hal-hal yang bisa merusak makna ketertundukan terhadap sang Maha Pencipta. Setiap kali ada hal-hal yang mengurangi kesopanan terhadap tempat suci ini, Hadratussyekh mesti memberi respon kontrolnya, minimal dalam bentuk teguran kepada orang yang dipasrahi untuk menjaga ketertiban ibadah di mesjid. Beliau sering memberi teguran jika terjadi keramaian yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Peringatan yang sering beliau sampaikan kepada santri menjadi kontrol efektif bagi mereka untuk tidak berlaku urakan dan keterlaluan dalam bergurau dan mengekspresikan sesuatu. Kontrol itu sangat melekat pada jiwa masing-masing santri. Saking lekatnya kontrol dari Hadratussyekh ini, setiap terjadi keramaian, satu kata “dalem” betul-betul ampuh untuk membuat mereka diam dan tenang kembali. Pada aspek apapun, Dalam segala hal, K.H. Hasani menekankan pentingnya keseriusan. Pada aspek apapun Kiai berpegang pada prinsip falyadhaku qalila walyabku katsira, perbanyak menangis dibanding tertawa. Prinsip tersebut merupakan prinsip dasar yang diajarkan al-Qur’an sebagai pandangan hidup bagi setiap muslim. Sebagai pemangku utama Pondok Pesantren Sidogiri, peran K.H. Hasani dalam menjaga keseimbangan arus pesantren agar tidak bergeser dari prinsip al-Salaf al-Shalihin betul-betul vital. Beliau menitikkan perhatiannya pada pembentukan haliyah, perilaku dan moral santri. Ini adalah bagian dari pandangan dan komitmen beliau yang luar biasa: bahwa santri merupakan tanggung jawab mahaberat dun’ya wa ukhra.
-
Kiai Hasani: Pandangan dan Visi
Dukungan Penuh atas Pancasila
Jika teliti, anda akan menangkap sebuah pemandangan aneh di pintu gerbang Pondok Pesantren Sidogiri. Di pintu masuk timur tepat di sebelah barat jalan, anda akan disambut ukiran... Burung Garuda. Lambang Republik Indonesia tersebut diukir di tembok sebelah kiri gerbang. Di bawahnya, tertera butir-butir Pancasila. Tak ada gambar dan tulisan lain selain itu, termasuk petunjuk bahwa gerbang itu adalah pintu masuk ke Pondok Pesantren Sidogiri.
Ada apa gerangan dengan gerbang Sidogiri? Konon, ukiran Burung Garuda dan butir-butir Pancasila itu dibuat atas instruksi dari Hadratussyekh K.H. Hasani. Tidak diketahui pasti semenjak kapan. Namun dari wajah gambar, tampak bahwa ukiran tersebut sudah berusia puluhan tahun.
Tak heran, Hadratussyekh menginstruksikan membuat gambar itu di pintu gerbang. Jika anda membaca manuskrip Kiai yang disebar Keluarga beberapa puluh hari setelah wafatnya, anda pasti bisa meraba-raba apa maksud beliau dengan gambar itu.
Kiai Hasani, seperti yang banyak beliau tulis dalam manuskripnya, merupakan tokoh yang memiliki kekaguman luar biasa dengan butir demi butir Pancasila. Butir-butir itu searah dengan pemikiran beliau, tapi dalam penafsiran yang berbeda dengan yang dimiliki orang pada lazimnya. Perbedaan penafsiran itu terletak pada sila Ketuhanan yang Maha Esa.
Dengan tegas Kiai Hasani menyatakan bahwa sila pertama ini hanya sesuai dengan akidah Islam, tidak dengan agama-agama lain. Logikanya, dengan sila ini semua agama tidak berhak untuk hidup di Indonesia karena tidak sesuai dengan dasar negara.
Apa yang beliau ungkapkan tentang tafsir sila ini tidak hanya sekedar apologia. Kiai Hasani membangun sebuah argumentasi teologis yang mapan. Beliau mengurut arti kata “esa” dari langgam teologi: bahwa pada titik makna dasarnya keesaan itu hanya sesuai dengan akidah Islam.
Argumentasi yang beliau bangun tentang kemanunggalan sila pertama dengan akidah Islam berujung pada kesimpulan bahwa sila tersebut mengandung dua unsur pokok. Pertama, kepercayaan akan eksistensi Tuhan (i‘tiraf al-uluhiyah); kedua, kepercayaan akan keesaan Tuhan (i‘tiraf al-wahdaniyah). Dengan unsur pertama, dasar negara tersebut menolak komunisme-ateisme; sedang unsur kedua menolak akidah agama selain Islam.
Konsekwensi dari sila tersebut adalah bahwa Republik Indonesia harus menyesuaikan segala haluan, kebijakan dan undang-undangnya dengan ajaran Islam, karena ideologi negaranya hanya sesuai dengan akidah Islam, tidak agama lain.
Sebagai dasar negara tentu hal tersebut harus betul-betul ditegakkan di Indonesia. Kiai Hasanimenyerukan agar kaum muslimin betul-betul memperjuangkan Pancasila, dalam arti bahwa “al-hukm bima anzal-Allah” harus berlaku di Bumi Pertiwi ini.
Dalam pandangan K.H. Hasani Nawawie, kemanunggalan ajaran Islam dengan Pancasila juga terbentuk melalui sila kedua (Keadilan Sosial). Jika sila pertama mempresentasikan ajaran Islam terkait hubungan vertikal dengan Allah, maka sila kedua mempresentasikan ajaran Islam terkait hubungan horizontal antara hamba dan hamba.
Visi umum ajaran Islam hanya ada dua: al-qiyam bi haqq al-Haqq dan al-qiyam bi haqq al-khalq. Pertama, melaksanakan kewajiban terkait dengan Sang Pencipta; kedua, melaksanakan tanggungjawab terkait dengan makhluk Sang Pencipta. Kedua visi itu dipresentasikan seluruhnya oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa dan Keadilan Sosial.
K.H. Hasani Nawawie: Visi Keumatan
Menjelang Pemilu tahun 1997, Sidogiri terlibat dalam sebuah polemik di majalah Editor. Adalah Ustadz H. Mahmud Ali Zain yang menjadi jubir Sidogiri ketika itu. Apa yang katanya tentang pemilu? “Berpartai hukumnya haram”.
Ada apa Sidogiri dengan pernyataan yang menyentak publik itu?
Penegasan itu datang dari K.H. Hasani Nawawie. Tak ada hal lain yang mendorong Kiai menegaskan hal itu kecuali ghirah dan keprihatinan yang sangat kuat melihat fenomena umat. Begitu mudah persatuan umat tercabik-cabik hanya karena fanatisme yang dihembuskan oleh kalangan partai. Urusan partai betul-betul telah membuat umat ini berada pada pertikaian yang tak tentu ujungnya. Bahkan, kerapkali tokoh umatnya sendiri yang menjadi motor pertikaian itu. Melihat kenyataan bahwa berpartai mengandung potensi sangat kuat dalam tafriq al-jama‘ah (memecahbelah umat), K.H. Hasani mengharamkan berpartai itu. Masalah berpartai merupakan sarana untuk tanshib al-imamah (memilih pemimpin), maka masih ada berpartai bukan satu-satunya cara untuk memilih pemimpin itu.
Bagaimanapun, kata Kiai Hasani, orang berpartai akan menumbuh ta‘ashhub (fanatisme) dalam hatinya. Ia akan membela partainya tanpa melihat apakah partai itu patuh pada syari’at atau tidak.
Fanatisme partai sudah sedemikian lama menjadi penyakit yang menggilas semangat ukhuwah. Politik dan berpartai merupakan motif utama konflik umat secara massal. K.H. Hasani tak kuasa melihat fenomena ini. Pertikaian umat betul-betul menyesakkan ruang dada beliau. “Bagaimana aku akan bertanggung jawab di akhirat terhadap santri-santri Sidogiri yang ikut partai ini dan itu, kemudian saling bertengkar,” dawuhnya suatu ketika kepada H. Thayyib (Ketua Yayasan STIE Malangkucecwara), sahabat dekat beliau.
K.H. Hasani memang sangat konsisten dengan pandangan-pandangan tentang persatuan umat. Tak ada kamus fanatisme terhadap madzhab dan golongan tertentu bagi beliau. Yang terpenting adalah Islam dan berperilaku Islami, bukan golongan ini dan golongan itu atau madzhab ini dan madzhab itu.
Solidaritas Islam begitu mengakar pada pandangan dan langkah-langkah beliau. Kiai paling tidak bisa menerima jika melihat umat Islam ditindas. L.B. Moerdani (Panglima ABRI di masa Soeharto) adalah orang yang sangat dibencinya. Moerdani merupakan tokoh utama di balik pembantaian ratusan umat Islam di Tanjung Priok. Di kalangan aktivis pembela Islam, Moerdani dikenal sebagai Panglima Salibis. Hal itu disebabkan karena sikap kerasnya dalam memusuhi umat Islam dan membela umat Kristen. “Membawa bom, lalu salaman dengan Moedani, kemudian mati bersama itu bukan mati bunuh diri, tapi mati syahid,” dawuh beliau.
NEXT>>>See More January 2 at 8:42am · LikeUnlike · 1 -
Nashihuddin Asy'ary
Santri dan Pesantren : Sebuah Predikat Moral
SANTRI. Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya, adalah orang yang berpegang teguh pada Alqur’an dan mengikuti sunnah Rasul SAW dan teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan... kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Allah yang maha mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.
Mirip sebuah prasasti, kalimat tersebut terpampang besar di bagian depan asrama “J” Pondok Pesantren Sidogiri. Terukir di tembok seluas kira-kira 7×2 meter, berwarna putih dengan latar belakang hijau. Di sebelah atas tercantum redaksi aslinya dalam bahasa Arab di bawah judul al-Santri.
Ukiran itu dibuat sekitar 11 tahun yang lalu. Kalimatnya disusun oleh Almaghfurlah K.H. Hasani Nawawie pada tahun 1972. Sejak semula kalimat tersebut dijadikan sebagai asas dasar Pondok Pesantren Sidogiri. Santri yang mondok di situ pasti hafal luar kepala. Bagi mereka, menghafal kalimat itu sama artinya dengan membaca prinsip hidup dan jati dirinya sendiri.
Pandangan K.H. Hasani tentang santri dan pesantren, setidaknya, telah dicurahkan dalam beberapa kalimat itu. Dalam kemasan “ta’rif santri” tersebut, Kiai Hasani mempertegas bahwa kata “santri” adalah murni sebagai predikat moral. Santri, bukanlah nama dari sebuah komunitas tertentu atau kelompok dengan budaya tertentu, tapi murni sebagai predikat dari sebuah ketaatan beragama.
Ada dua hal pokok yang disebut K.H. Hasani dalam ta’rif santri itu: ketaatan pada garis agama serta prinsip tegas dan perilaku yang lurus. Dan, persis seperti apa yang dikemukakannya tentang santri, beliau juga memberi arti pesantren, murni dalam sebuah predikat moral keagamaan. Menurut K.H. Hasani, pesantren adalah lembaga yang berdiri atas dasar takwa kepada kepada Allah atau menjadikan ketaatan beragama sebagai pijak dasarnya (ussisa ‘ala al-taqwa).
Dalam memandang segala sesuatu (terutama masalah agama), K.H. Hasani memang selalu bertumpu pada substansi dan prinsip keagamaan. Jika prinsip dan substansinya sudah benar, beliau tak pernah menghiraukan lagi siapa dan dari kelompok mana. Hal ini selalu beliau tampakkan dalam setiap langkah-langkahnya, baik dalam berdakwah, membangun ukhuwah, maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Kiai Hasani dan Kritik Sosial
Pandangannya yang lurus dan tak kenal kompromi membuat K.H. Hasani disegani ulama-ulama lain. Beliau memang putera ulama besar, tapi yang membuatnya disegani adalah sikap dan pandangannya yang lurus serta tegas.
Kiai Hasani memang tak segan-segan menegor siapa saja yang dianggapnya tidak mengindahkan ajaran agama, tak terkecuali dia itu tokoh besar atau mempunyai pengaruh luas. Dalam menyikapi sesuatu, beliau selalu teliti dan kritis. Kritik-kritik beliau lebih banyak ditunjukkan untuk para pengemban ilmu pengetahuan, baik santri, pelajar, maupun ulama, dibanding yang lain.
Menyikapi kerusakan moral di masyarakat, Kiai Hasani tidak terlalu menyalahkan mereka. Beliau melihat hal ini sebagai kesalahan para pengemban dakwah Islam. “Mereka tidak salah, yang salah itu kamu dan saya,” dawuhnya.
Rusaknya moral umat bersumber dari rusaknya moral para ulama. Begitulah salah satu inti dari tulisan beliau dalam beberapa manuskripnya. Menurutnya, seperti ditegaskan Rasulullah, komponen yang paling menentukan baik-buruknya umat ada 2, yaitu ulama (kaum cendekiawan) dan umara (kaum birokrat).
Kerusakan moral masyarakat merupakan akibat dari bobroknya moral para penguasa (birokrat). Kebobrokan penguasa, disebabkan karena tidak becusnya para ulama. Begitulah Kiai Hasani mengurai sumber utama kebobrokan ini. Dalam pandangan beliau, ulama saat ini telah banyak yang tergila-gila pada harta dan kedudukan (hubb al-jah wa al-mal).
Kritik keras juga beliau alamatkan kepada para pelajar dan santri. Dalam hal ini, yang menjadi bidikan utama beliau adalah kebiasaan tidak serius dalam mencari ilmu. Tertawa dan kegaduhan yang tidak perlu telah menjadi kebiasaan yang telah melekat di tempat belajar dan majlis al-ilm. Kebiasaan tidak serius ini amat disayangkan Hadlratussyekh. Dalam sebuah manuskripnya beliau bercerita tentang suasana belajar di majelis pengajiannya al-A‘masy. Suatu ketika, seorang murid al-A‘masy tertawa saat berlangsungnya pengajian. Syahdan, al-A‘masy menindaknya dan menyuruhnya berdiri. “Engkau mencari ilmu yang telah di-taklif-kan Allah kepadamu, sedang engkau tertawa,” kata al-A‘masy memarahinya. Setelah itu al-A‘masy tidak menyapa murid itu selama 2 bulan.
Dalam Semalam, Istiqamah Bangun Lima Kali
Anak adalah buah hati. Keturunan berarti kelangsungan sejarah bagi seseorang. Tiada anak, hambarlah kehidupan rumah tangga. Tapi, tidak dengan K.H. Hasani Nawawie. Kiai yang menghabiskan hidupnya dengan lakon zuhud ini malah tidak ingin punya anak. “Saya ini sudah anak, anaknya Kiai Nawawie Sidogiri. Jadinya seperti ini. Kalau saya punya anak, jadinya seperti apa. Sedang antara saya dan Abah bayna al-sama’ wa al-sumur (antara tingginya langit dan dalamnya sumur),” dawuhnya.
Filosofi yang dipegang Kiai Hasani tentang “anak” memang tidak seperti filosofi yang dipegang orang pada umumnya. Beliau memandang keturunan tidak dalam bentuk kuantitas, tapi murni pada kualitas kesalehannya di hadapan Sang Pencipta. Dan, Hadlratussyekh, sampai akhir hayatnya, tidak mempunyai seorang putera pun. Beliau hanya mempunyai dua putera angkat, Yaitu Mas Abdul Bari dan Mas Anshori (Putera Nyai Sholihah, isteri Kiai Hasani yang ketiga).
K.H. Hasani beristeri tiga kali. Dari ketiga isterinya itu, beliau tidak menurunkan putera sama sekali. Isteri pertama beliau adalah Ibu Nyai Zubaidah. Tidak begitu lama berkeluarga dengan Ibu Nyai Zubaidah, Kiai Hasani men-firaq-nya. Beliau kemudian berkeluarga dengan Ibu Nyai Lilik, puteri K.H. Zaini Rembang. Namun, tidak lama juga beliau men-firaq-nya. Yang terakhir beliau berkeluarga dengan Ibu Nyai Sholihah. Ibu Nyai Shalihah berasal dari Malang. Beliau adalah janda dengan putera 7 orang. Puteranya yang ikut ke Sidogiri hanya 2 orang, yaitu, Mas Abdul Barri dan Mas Anshori.
Kiai Hasani mempunyai perhatian penuh terutama pada sisi moral. Nuansa zuhud dan sufi tidak hanya kental pada diri beliau semata, tapi juga segenap keluarganya. “Kamu mau saya jadikan apa saja ikutlah!” dawuh beliau kepada Mas Abdul Barri, salah satu putera angkatnya.
Disiplin ajaran Islam betul-betul beliau terapkan pada keluarganya. K.H. melarang keras keluarganya keluar tanpa disertai mahram. Wanita yang bukan mahram tidak boleh masuk ke dalemnya. Beliau juga melarang televisi bagi keluarganya. Dalam pandangan Kiai Hasani, televisi banyak mudharat-nya dalam pembentukan moral. “Meskipun thariqat kalau masih ngingu (punya) TV, itu thariqat gendeng,” dawuh beliau mengometari media hiburan plus informasi itu.
Sehari-hari beliau menekankan pentingnya shalat berjamaah bagi keluarganya. Beliau sendiri, sejak masih belum baligh tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Dan, Kiai lebih suka melaksanakan shalat jamaah di dalemnya daripada di mesjid. Konon, beliau tidak betah shalat di mesjid yang sehari-hari ramai dengan aktivitas ibadah santri itu. Kiai Hasani tidak tahan melihat ibadah santri, yang menurut beliau, tidak karuan. “Kalau aku shalat di mesjid, marah-marah nanti,” dawuhnya.
NEXT>>>See More January 2 at 8:43am · LikeUnlike · 1 -
Nashihuddin Asy'ary
K.H. Hasani melalui hari-harinya dengan lakon yang amat berat. Anjuran tasawuf tentang “perbanyak menangis daripada tertawa” betul-betul beliau laksanakan. Hari-harinya beliau lalui dengan perasaan susah, terutama ketika ada hujan, petir da...
n banjir. Hal ini beliau lakukan sebagai kiat untuk menjaga hati agar selalu mengingat Allah. Bahkan, jika merasa gembira beliau memaksakan diri untuk susah. “Hati yang dibuat susah, meskipun karena urusan dunia, baik untuk hati tersebut. Sebaliknya, jika dibuat gembira, meskipun karena akhirat itu justru tidak baik untuk hati itu”. Begitulah prinsip beliau.
Setiap malam, Kiai Hasani istiqamah bangun dalam setiap jam. Dalam semalam Kiai bangun sebanyak 5 kali, mulai jam 11.00 malam sampai jam 3.00 dini hari. Setiap selesai shalat Isya, beliau beristirahat sampai jam 11.00 malam. Kemudian bangun dan berwudlu’, lalu membaca surah Al-Fatihah. Setelah itu, beliau istirahat lagi. Pukul 12.00 malam, beliau bangun dan melakukan hal yang sama. Begitu juga pada pukul 1.00 dini hari. Pukul 2.00 beliau bangun lagi, berwudlu’, membaca surah Al-Fatihah lalu bertafakkur sebentar kemudian istirahat kembali. Pukul 3.00, beliau bangun dan terus melakukan ibadah sampai subuh tiba.
Dalam ibadah Kiai Hasani lebih senang mengerjakan yang dianggapnya paling berat. Beliau suka ber-mujahadah. Ning Hikmah (keponakannya) pernah bercerita mengenai CD al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab lain kepada beliau. Dengan CD, seseorang dapat dengan mudah mencari data-data yang diperlukan. Tapi, Kiai Hasani menyatakan tidak suka dengan kemudahan-kemudahan dari produksi teknologi tersebut. “Aku gak seneng, kurang ganjarane” (Aku tidak suka, karena kurang pahalanya), jawab beliau.
Selain tegas serta kukuh dalam menegakkan dan melaksanakan ajaran Islam, Kiai Hasani juga sangat syafaqah dan penyayang. Rasa syafaqah-nya yang mendalam tidak hanya beliau tunjukkan untuk sesama manusia, tapi juga kepada makhluk Allah yang lain. Beliau menyayangi binatang-binatang. Beliau tidak pernah memberi makan kucing di dalemnya dengan ikan yang masih ada tulangnya. Ikan yang mau diberikan kepada kucingnya mesti dibuang tulangnya dulu. Ayamnya pun diberi makan roti. “Meskipun semut, itupun juga makhluk Allah,” kata beliau.
Kiai juga terkenal telaten dalam mengajar. Dulu, Kiai Hasani mengadakan pengajian khusus untuk keponakan-keponakannya. Pengajian itu dilaksanakan di dalem Ibu Nyai Hanifah (saudari beliau). Beliau sangat telaten mengajar keponakan-keponakannya itu. Sampai-sampai ada seorang keponakannya yang tidak bisa menulis karena sering dituliskan oleh beliau.
-
10 hari sebelum wafat,
KH Hasani Nawawy Bermimpi Didatangi Imam al-Ghazali
Ribuan orang berjubel di komplek pesarean (makam) Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri. Komplek pemakaman yang terletak di belakang mesjid, sebelah barat mihrab itu,... tampak penuh dengan orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk KH. Hasani Nawawie. Sebagian besar datang dari jauh, bukan masyarakat setempat. Wajah-wajah mereka terlihat muram. Berduka. Tak ada tawa. Di sebelah barat komplek pemakaman dengan luas sekitar 50 meter persegi ini, terlihat wanita-wanita berdesakan meraih satir untuk melihat prosesi pemakaman dari atas tirai terpal itu.
Di sekitar pagar, tampak petugas dari satuan Banser sibuk mencegah orang-orang yang merengsek ke pagar. Mereka ingin masuk ke dalam kompleks agar dapat mengekspresikan penghormatan terakhirnya secara langsung. Di dalam pagar, tampak Keluarga, tokoh-tokoh dan orang-orang yang sibuk mempersiapkan pemakaman.
Sementara itu di luar komplek pemakaman, terdengar gaduh. Masyarakat berebut ikut memikul keranda jenazah Kiai Hasani Nawawie. Minimal, mereka dapat menyentuh keranda tokoh panutan itu. Melalui pengeras suara, terdengar seruan agar masyarakat tidak berebutan. “Hormati mayyit, hormati jenazah, jangan berebutan!” Teriakan itu terdengar sibuk dan sangat keras.
Ketika jenazah sampai di pesarean, masyarakat yang sejak semula gaduh mulai tenang. Hanya sesekali terdengar bisikan, gumam “Allah” dan isak tangis wanita dari barat pesarean.
Prosesi pemakaman itu berlangsung sekitar pukul 16.00 Selasa sore, 13 Rabiul Awal 1422 / 5 Mei Juni 2001. Sebelumnya, shalat jenazah dilaksanakan sebanyak 11 kali di mesjid Jami Sidogiri. Shalat jenazah dilaksanakan berulang-ulang karena masyarakat yang datang berta’ziah terus mengalir dari berbagai daerah. Setiap kali shalat jenazah dilaksanakan mesjid selalu penuh, sampai meluber ke surau dan jalan-jalan. Shalat jenazah pertama dilaksanakan sekitar pukul 9.00 pagi, sedang shalat jenazah terakhir sekitar 16.00 sore.
Kiai Hasani memenuhi panggilan Allah sehari setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad; tepatnya pada malam Selasa, 13 Rabiuts Tsani 1422, pukul 03.50 dini hari. Beliau wafat pada usia 77 tahun karena serangan darah tinggi yang sudah sejak lama dideritanya.
Sehari sebelum wafat (malam Senin), Hadratussyekh masih sempat menghadiri acara peringatan maulid Nabi di Mesjid Sidogiri. Kiai mengikuti pembacaan diba’ mulai awal sampai selesai. Beliau juga masih sempat berta‘ziyah ke rumah H. Ismail, seorang warga desa Sidogiri yang wafat sehari sebelum maulid. Saat itu, Kiai sudah terlihat sakit parah. Sambil dipapah, beliau berjalan ke rumah H. Ismail yang berjarak kira-kira 150 meter dari dalemnya.
Menurut penuturan dari salah satu putra tirinya, Mas Abdul Bari, 10 hari sebelum wafat, Kiai Hasani bercerita telah didatangi Imam al-Ghazali dalam tidurnya. Beliau mushafahah (berjabat tangan) dengan tokoh sufi terkemuka Abad Pertengahan itu. Kiai Hasani merasakan perjumpaan dengan Imam al-Ghazali seperti dalam alam nyata, tidak dalam mimpi. Beliau tidak menceritakan lebih lanjut tentang pertemuan dengan Imam al-Ghazali tersebut. Cuma, pada hari itu pula beliau dawuh kepada K.H. Nawawi Abdul Djalil: “Sing enak saiki mastur (Yang enak sekarang ini tidak dikenal orang).
Sebelumnya, beliau akan untuk naik haji pada tahun ini menemani Nyai Shalihah, istri beliau. Niat itu telah diutarakan kepada beberapa Keluarga Sidogiri. Yang membuat Keluarga Sidogiri tersentak sedih dengan niat Kiai ini, beliau mengatakan bahwa usai naik haji, dirinya tidak akan kembali lagi.
NEXT>>>>>See More January 2 at 8:48am · LikeUnlike -
Nashihuddin Asy'ary
Komentar Para Tokoh tentang KH Hasani Nawawie
Habib Taufik bin Abd. Qodir Assegaf, Tokoh Habaib Pasuruan“Saya Kagum Dengan Visi dakwahnya”
Saya cukup kenal dekat dengan beliau. Dan beliau saya anggap sebagai guru dan orang tua. Banyak hal... yang saya teladani dari figur beliau. waro’, sederhana, dan tidak mau menonjolkan diri adalah salah satu sifat utama beliau.
Satu hal dari beliau yang selalu saya ingat adalah kelapangan hati untuk menerima kritik sekalipun dari orang yang masih muda. Pernah satu ketika, karena melihat beliau sering datang ke pendopo kabupaten, didorong rasa sayang pada beliau saya sampaikan, “Sebaiknya kiai jangan sering-sering datang ke pendopo, biar saya saja yang menjadi corong kiai”. Dibilang begitu beliau sangat gembira sampai-sampai uang yang ada disakunya dikasihkan pada saya semua, kalau tidak salah sekitar seratus lima puluh ribu. “orang berani dan jujur begini yang saya senangi”, kata beliau saat itu.
Dalam dakwah beliau tidak pernah mempermasalahkan dari golongan mana. Asal visinya jelas dan sesuai dengan visi dakwah beliau pasti didukungnya. Entah itu NU atau bukan. Dan saya termasuk orang yang selalu diberi semangat oleh beliau untuk berdakwah.
Dan satu hal lagi, beliau tidak pernah menyakiti bahkan selalu memberi manfaat pada orang lain. Dan orang yang seperti itu sangat mahal harganya.
KH. Yusbakir, Wakil bupati Pasuruan
“Penyejuk Birokrat”
Pertama kali mendengar beliau wafat saya terkejut sekali, sebab salah satu pelita yang menerangi umat telah diambil oleh Allah. Kiai Hasani sangat punya perhatian pada masalah-masalah kepemerintahan. Beliau sering datang dalam pertemuan atau rapat di pendopo. Walau tidak banyak berkomentar bahkan tak jarang tak sepatah katapun beliau ucapkan. Namun dengan kedatangannya saja kami sudah merasa tenang dan sejuk, sebab kami merasa apa yang kami lakukan telah mendapat restunya.
Beliau memang lebih senang diam. Jika berkata sekalipun pendek tapi mengandung makna yang sangat luas dan dalam. Dan justru dengan sikapnya diamnya itulah kami semakin respek dan kagum.
Kiai Hasani sangat peka dan tanggap terhadap persoalan keumatan. Beliau sering bertanya tentang bagaimana situasi keamanan Pasuruan dan memberikan nasehat-nasehat kepada para pejabat. Perhatian dan kesungguhan beliau setidaknya bisa dilihat dari masalah suksesi yang sempat menjadi polemik beberapa saaat lalu. “Yang saya inginkan bagaimana pasuruan bisa tenang kembali”, kata beliau saat itu.
Sikap yang beliau tunjukkan selalu memberikan kesejukan pada siapapun yang melihat. Dan ternyata dalam kesederhanaannya beliau tetap punya kharisma yang begitu kuat.


Selasa, Desember 17, 2013
Unknown


